Seminar Bisnis MUI: Bank Syariah Dorong Pemerataan Ekonomi

Seminar Bisnis MUI: Bank Syariah Dorong Pemerataan Ekonomi

Makassar, Beritakota Online-Sistem ekonomi islam mengejar pemerataan dan kesejahteraan. Adapun sistem ekonomi kapitalisme mengejar pertumbuhan namun meninggalkan pemerataan.

“Kapitalisme membuat kesenjangan ekonomi yang lebar, korupsi, penyimpangan kekuasaan, hedonistik, individualisme, gaya hidup boros, konsumtif, dan tekanan mental dan psikologis,” ungkap Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar Prof Dr M Nasir Hamzah SE MSi dalam seminar nasional yang bertajuk “Meneguhkan Moralitas Islami dalam Teori dan Praktek Bisnis” di Auditorium Al-Jibra, Kampus II UMI Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/7/2016).

Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian Musyawarah Daerah (Musda) VII Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan. Pengurus Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulawesi Selatan Dr Sukardi Weda dan Drs Renreng Tjolli MAg turut mengikuti seminar ini.

Tampil menjadi pembicara antara lain, Guru Besar Fakultas Ekonomi UMI Prof Dr M Nasir Hamzah SE MSi, Guru Besar hukum islam Universitas Hasanuddin Prof  Dr M Arfin Hamid SH MH, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sulsel Dr Mukhlis Sufri SE MSi. Adapun diskusi dipandu moderator Dr Abdul Hamid Habbe SE MSi.

Menurut Nasir Hamzah, ekonomi islam mengejar kesejahteraan di dunia dan di akhirat. “Di negara-negara islam, saat memasuki waktu shalat, pertokoan ditutup,” katanya.

Ciri negara kapitalis, kata Nasir, pemilik modal lebih banyak terlibat dalam kebijakan ekonomi. “Bagaimana dengan Indonesia? Kita cenderung kapitalis,” ujar Nasir.

Di tempat yang sama, Guru Besar hukum islam Universitas Hasanuddin Prof  Dr M Arfin Hamid SH MH menguraikan, ekonomis islam tidak hanya berkenaan dengan bank islam. Ekonomi islam, mendorong umat berwirausaha. “Saat telah memiliki banyak uang, simpan uang di bank syariah. Uang sebagai alat tukar, bukan komoditas,” ungkapnya.

Ia pun mengkritik Dewan Pengawas Syariah (DPS) bank syariah yang kurang berperan. “Ulama kita di daerah banyak menganggur. Bank-bank besar, DPS-nya tidak jalan. Padahal, setiap bank syariah, harus mempunyai DPS. Jangan hanya di Jakarta,” katanya.

Pihaknya mengatakan, pemanfaatan keuntungan dari bisnis jangan difungsikan pada hal bertentangan dengan ajaran agama. “Jangan dibelikan minuman keras,” ujarnya. (*)

Editor : Andi A Effendy


Halaman Depan | Lihat Daftar Berita Pilihan, Berita Terkini, Ekobis | trackback from your own site.


Comments are closed.

Tulisan Terkait

27 - Oct – 2014 - Admin1

PT.PLN Hanya Miliki Kapasitas Terpasang Pembangkit Secara Nasional Capai 49.701 MW

5 - Aug – 2014 - Admin1

Dua Pesawat Boeing 737 CN-25 Ikut Pantau Pencarian Korban KM. Isabella

1 - Sep – 2016 - Admin1

Sertijab Perwira Polres Pangkep, Mantan Kasat Lantas Sorot Panitia ” Kenapa Tidak Ada Spanduk Sertijab” !

30 - May – 2015 - Admin1

Dirut Bantah Lakukan Penyalahgunaan Wewenang Dan Pungli Di Angkasa Pura Logistik

30 - Jun – 2012 - Admin1

Konsolidasi Dan Silaturahmi FKKBS Kota Palopo

View Desktop Version
by Mobile Domain